Kamis, 28 Mei 2020

Hidup Terus Berjalan


Aku pernah berada di keadaan menangisi seseorang hingga rasanya lebih baik dunia berakhir disini saja. Beberapa tahun lalu, tepatnya 15 tahun lalu, kepergian ayahku membuat semua hal yang terjadi setelah kepergiannya terasa tak berarti. Sisi baiknya, aku lebih dekat dengan ibuku. Itupun mungkin karena perasaan dimana hanya dia ladang pahala terakhir yang aku miliki. Kadang menyedihkan rasanya menerima surat semasa sekolah yang ada kata “untuk orangtua” di dalam kalimatnya. Kenyataannya, tidak ada “orangtua”, hanya sesosok wanita renta yang terus mengeluh dan biasa kupanggil “mamak” di rumah. Kau harus membayangkan hidup dengan “mamakku”. Sebagaimana stereotype orang Sumatra, dia strict akan semua nilai-nilai yang dia percaya, yang dimana juga tidak jarang bertentangan dengan apa yang kupercaya. Tak jarang kami saling tak menyapa karena perbuatanku dan sikap sarkasku. Di dalam diamnya pun aku masih percaya ada cinta untukku disana. Yang harus dia tahu ialah, aku hanya tidak menyukai caranya mendidikku, bukan berarti aku tak mencintai dia sama sekali. Aku sendiri adalah tipe orang tak pernah pandai mengungkapkan perasaan cintaku pada seluruh keluargaku. Bahkan untuk keponakanku yang baru berusia 10 bulan. Ironisnya, walaupun secara emosional dan fisik aku adalah yang paling jarang ada untuk keponakanku, namaku lah yang paling pertama ia mampu eja walau setengah terbata. Menulis ini semacam terapi untukku yang tak mampu mengucap minimal “terima kasih” atas apa yang keluargaku telah lakukan untukku selama 24 tahun ini. 

Oh iya. Ini hari ulang tahunku. Tak ada yang spesial selain peringatan dalam bentuk ucapan selamat dari orang-orang yang cukup simpatik untuk mendoakanku. Semakin bertambah tua, rasanya semakin aku menerima kenyataan bahwa hidup punya makna berbeda bagi setiap orang. Mamakku selalu berucap bahwa dia ingin hidup cukup lama untuk melihatku menikah dan memiliki keturunan. Keinginanku untuk tidak cepat menikah dan perbedaan usia 40 tahun antara aku dan ibuku adalah dilema tersendiri buatku. Setiap kali hubunganku dengan lawan jenis gagal, dia selalu berkata, “Udah, kamu sukses dulu. Nanti kalau sukses, pasti banyak perempuan yang bisa kamu gaet”. Aku cuma bisa merespons dengan senyum getir untuk apa yang dia katakan. Seakan perempuan menurutnya bisa aku dapatkan hanya dengan sebatas kemapanan secara materil. Seakan variabel seperti masa lalu, rasa nyaman saat berdua, pandangan masyarakat, dan berbagai hal lain tak pernah ada. Ada masanya aku pernah menyesal dia harus melewati hari-hari tuanya melihatku sibuk dengan urusan akademis maupun non akademisku di kampus atau hanya karena aku lebih memilih pergi keluar bersama temanku. 

Apapun itu, kali ini aku ingin ucapkan terima kasih. Teruntuk keluarga dan semua yang berarti, yang pernah datang dan pergi silih berganti.. Teruntuk segala pelajaran hidup yang aku lalui. Terima kasih sudah membentukku menjadi aku yang sekarang. Pribadi yang masih nyaman dengan jiwa seperti anak sekolahan dibanding mendewasakan diri. Tapi sampai kapanpun, aku tidak akan bisa menahan laju waktu. Nanti akan ada waktunya ragaku merapuh dan mulutku hanya digunakan untuk mengeluh. Tidak lagi mampu mengingat memori saat-saat aku bertumbuh. Emosi yang naik turun mengambuh. Melihat cermin dengan keriput dan memutihnya rambut. Hingga waktu itu tiba, masih banyak yang ingin aku lakukan. Menggapai tujuan-tujuan yang masih tertulis di bagian belakang buku harian. Mencari kebahagiaan untuk diri sendiri dan orang-orang di sekitar. Atau menemukan teman bersanding yang juga sanggup menerima ketidaksempurnaan. Semua sudah punya takarannya masing-masing. Jangan berpikir jika beberapa hal tidak pantas untukmu, melainkan Tuhan merasa mereka belum tepat untuk hadir sesegera ini ke hadapanmu. After all thyis time, life is worth living and trying. 

Mengutip dari Robert Frost. “Dalam tiga kata, aku bisa menyimpulkan semua yang kupelajari tentang hidup, Hidup Terus Berjalan” 

PS: Maaf bila aku masih menjadi seorang anak yang membangkang, teman yang buruk, ataupun pasangan yang tidak cukup baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar