Kamis, 10 September 2020

Kepada Perempuan Itu

Lagu lagu penuh romansa nostalgia
Mengalun sembari ku memandang langit
Dengan jahatnya bulan berubah menyerupai senyummu
Memaksaku mengorek apa yang telah terkubur bersama sakit, sesal, juga rindu

Aku ingat wajahmu saat menyantap makanan hangat kala hujan
Pun saat kita berteduh di restoran favoritku yang makanannya cukup pedas katamu
Aku ingat taman bunga yang menjadi tempat terakhir kita berbagi bahagia
Menyedihkannya, aku ingat semua detailnya
Sementara kamu, mungkin sudah menguburnya ratusan hari yang lalu

Hampir dua tahun kamu pergi, menyisakan ruang sunyi dalam apa yang kusebut hati
Seperti mereka yang separuh dirinya pergi, aku juga merasakan patah hati
Semua menyuruhku beranjak, semua menyuruhku mencari lagi
Tapi aku cukup tangguh, atau mungkin bodoh, untuk sekedar menantimu kembali

Aku ingin jawaban
Salah apa aku? Tidak mungkin hilang begitu saja
Atau mungkin karena mereka? Kamu lebih tau aku sebenar-benarnya
Mulutmu tetap saja membisu sementara akalku tak mampu mencerna sikapmu

Maafmu masih mampu menciptakan senyum, tapi tidak menyembuhkan luka
Luka yang kutanggung dari hari pertama perpisahan kita
Yang sewaktu waktu datang sembari berbisik lirih di telinga
"Kamu memang tak pantas buat perempuan sesempurna dia"

Apapun itu, ikhlas adalah cara paling sederhana merelakan bahagia
Aku semakin kuat setiap harinya, menjalani hidup tanpa ada kamu lagi di dalamnya

Pernah satu kali, saat tubuhku terduduk diatas sajadah dan tanganku menengadah, kamu lewat tanpa permisi dalam renung yang khusyuk
Walau aku adalah orang yang jarang berdoa, namun sekalinya aku berdoa, ada namamu di dalamnya.

Kamis, 28 Mei 2020

Hidup Terus Berjalan


Aku pernah berada di keadaan menangisi seseorang hingga rasanya lebih baik dunia berakhir disini saja. Beberapa tahun lalu, tepatnya 15 tahun lalu, kepergian ayahku membuat semua hal yang terjadi setelah kepergiannya terasa tak berarti. Sisi baiknya, aku lebih dekat dengan ibuku. Itupun mungkin karena perasaan dimana hanya dia ladang pahala terakhir yang aku miliki. Kadang menyedihkan rasanya menerima surat semasa sekolah yang ada kata “untuk orangtua” di dalam kalimatnya. Kenyataannya, tidak ada “orangtua”, hanya sesosok wanita renta yang terus mengeluh dan biasa kupanggil “mamak” di rumah. Kau harus membayangkan hidup dengan “mamakku”. Sebagaimana stereotype orang Sumatra, dia strict akan semua nilai-nilai yang dia percaya, yang dimana juga tidak jarang bertentangan dengan apa yang kupercaya. Tak jarang kami saling tak menyapa karena perbuatanku dan sikap sarkasku. Di dalam diamnya pun aku masih percaya ada cinta untukku disana. Yang harus dia tahu ialah, aku hanya tidak menyukai caranya mendidikku, bukan berarti aku tak mencintai dia sama sekali. Aku sendiri adalah tipe orang tak pernah pandai mengungkapkan perasaan cintaku pada seluruh keluargaku. Bahkan untuk keponakanku yang baru berusia 10 bulan. Ironisnya, walaupun secara emosional dan fisik aku adalah yang paling jarang ada untuk keponakanku, namaku lah yang paling pertama ia mampu eja walau setengah terbata. Menulis ini semacam terapi untukku yang tak mampu mengucap minimal “terima kasih” atas apa yang keluargaku telah lakukan untukku selama 24 tahun ini. 

Oh iya. Ini hari ulang tahunku. Tak ada yang spesial selain peringatan dalam bentuk ucapan selamat dari orang-orang yang cukup simpatik untuk mendoakanku. Semakin bertambah tua, rasanya semakin aku menerima kenyataan bahwa hidup punya makna berbeda bagi setiap orang. Mamakku selalu berucap bahwa dia ingin hidup cukup lama untuk melihatku menikah dan memiliki keturunan. Keinginanku untuk tidak cepat menikah dan perbedaan usia 40 tahun antara aku dan ibuku adalah dilema tersendiri buatku. Setiap kali hubunganku dengan lawan jenis gagal, dia selalu berkata, “Udah, kamu sukses dulu. Nanti kalau sukses, pasti banyak perempuan yang bisa kamu gaet”. Aku cuma bisa merespons dengan senyum getir untuk apa yang dia katakan. Seakan perempuan menurutnya bisa aku dapatkan hanya dengan sebatas kemapanan secara materil. Seakan variabel seperti masa lalu, rasa nyaman saat berdua, pandangan masyarakat, dan berbagai hal lain tak pernah ada. Ada masanya aku pernah menyesal dia harus melewati hari-hari tuanya melihatku sibuk dengan urusan akademis maupun non akademisku di kampus atau hanya karena aku lebih memilih pergi keluar bersama temanku. 

Apapun itu, kali ini aku ingin ucapkan terima kasih. Teruntuk keluarga dan semua yang berarti, yang pernah datang dan pergi silih berganti.. Teruntuk segala pelajaran hidup yang aku lalui. Terima kasih sudah membentukku menjadi aku yang sekarang. Pribadi yang masih nyaman dengan jiwa seperti anak sekolahan dibanding mendewasakan diri. Tapi sampai kapanpun, aku tidak akan bisa menahan laju waktu. Nanti akan ada waktunya ragaku merapuh dan mulutku hanya digunakan untuk mengeluh. Tidak lagi mampu mengingat memori saat-saat aku bertumbuh. Emosi yang naik turun mengambuh. Melihat cermin dengan keriput dan memutihnya rambut. Hingga waktu itu tiba, masih banyak yang ingin aku lakukan. Menggapai tujuan-tujuan yang masih tertulis di bagian belakang buku harian. Mencari kebahagiaan untuk diri sendiri dan orang-orang di sekitar. Atau menemukan teman bersanding yang juga sanggup menerima ketidaksempurnaan. Semua sudah punya takarannya masing-masing. Jangan berpikir jika beberapa hal tidak pantas untukmu, melainkan Tuhan merasa mereka belum tepat untuk hadir sesegera ini ke hadapanmu. After all thyis time, life is worth living and trying. 

Mengutip dari Robert Frost. “Dalam tiga kata, aku bisa menyimpulkan semua yang kupelajari tentang hidup, Hidup Terus Berjalan” 

PS: Maaf bila aku masih menjadi seorang anak yang membangkang, teman yang buruk, ataupun pasangan yang tidak cukup baik.

Selasa, 12 Mei 2020

Rumah Sempurna


Selama pandemi, tanggal di kalender seakan tak ada gunanya menurutku. Setiap hari terasa sama. Tak banyak yang bisa kulakukan di rumah selain menonton televisi dan laptop, melihat video lucu di media sosial, bermain Playstation Portable, makan minum, menjaga keponakanku, dan beberapa pekerjaan rumah yang jarang kulakukan. Interview  dan tes kerja yang diundur entah sampai kapan membuatku secara teknis menjadi pengangguran intelektual di rumah. Aku sendiri tak yakin aku orang yang intelek. Lagipula aku harus memandang sisi baik dari semua ini: aku bisa menghemat pengeluaranku. Tabunganku dari bekerja serabutan selama kuliah masih cukup untuk beberapa tahun kedepan. 

Aku mendapati beberapa hari kemarin aku berdiri di depan halaman rumahku. Aku terus memandangi rumahku, tempat yang selama 22 tahun menjadi naunganku. Dulu rasanya amat besar. Aku bahkan bisa berlatih sepeda roda dua di halaman itu. Kini rasanya amat sempit. Di satu sisi rumah ada sebuah berugak. Dulu aku sering membawa temanku untuk sekedar bermain monopoli sehabis kami belajar kelompok disana. Sekarang berugak itu reot dan miring. Dudukannya pun kini dipenuhi debu. Langit-langit rumah satu-persatu terlepas. Beberapa area di rumah kadang bocor jika hujan deras. Walaupun bertingkat, kadang aku berfikir ini lebih mirip rumah gembel. Tak peduli seberapa kalipun diperbaiki, sudah memang saatnya rumah itu mengalaminya. 

Sebagai antisipasi, kakak-kakakku sudah mengikuti program KPR. Membeli rumah bagi diri mereka masing-masing dan keluarga mereka kelak. Aku? Selain kendala finansial yang sudah pasti, ada hal yang menurutku cukup sentimentil membuatku bertahan di rumah ini. Sempat beberapa kali ibuku terpikir untuk pindah. Aku saja yang tak mau. Selain itu sebagai anak terakhir, rumah ini menurutku warisan yang paling tak ternilai. Rumah inilah kenangan terakhir yang mengikatku dengan almarhum ayahku. Tak peduli sebagus apapun nanti rumah yang mungkin akan kubangun dengan uangku sendiri, rumah ini akan selalu menjadi tempatku kembali akhirnya. Seberapa cacatpun nanti tembok, langit-langit, pilar, halaman, ataupun lantainya, rumah ini akan tetap menjadi rumah sempurna. Teruntuk ayah, terima kasih atas warisan terbaik yang kau tinggalkan.

Sabtu, 09 Mei 2020

First Love

2008

   Di tahun ini aku bertemu denganmu. Gadis berpipi chubby, berambut kusut hasil catok atau bonding, entahlah aku tak cukup peduli, dan wajah yang diluar bayanganku sendiri untuk kukhayalkan menjadi cinta pertama. Aku ingat semua detil saat perjumpaan. Wajahmu yang memerah saat tak sengaja melewatiku, mataku yang selalu mencuri pandang saat melewati kelasmu, dan betapa lugunya kita hingga harus membutuhkan perantara temanmu untuk menjadi layanan SMS bernyawa saat kita cukup malu untuk sekedar saling bertukar rindu.

   Hingga suatu malam, komunikasi kita benar benar nyata, sayangnya tidak langsung. Telepon rumahku berdering. Dan betapa kagetnya aku saat ibuku yang mengangkat telepon barusan berkata, "ye, ada telpon buat kamu!". Begitulah seru ibuku. Seumur-umur, baru ini kali pertama ada telepon untukku. Betapa terkejutnya aku setelah mengangkat telepon itu. Suaramu samar memastikan apakah yang mengangkat adalah aku. Percakapan kita tak lebih dari dua menit. Namun, kesan yang ditinggalkannya tak cukup mampu membuatku tidur nyenyak malam itu.

   Selang berhari-hari setelah telepon itu, kita lebih dekat satu sama lain. Aku bahkan harus meminjam HP milik ibuku untuk sekedar menanyakan kabarmu setiap harinya. Betapa masih terngiang RBT lagu Cinta Laura yang terdengar setiap sebelum kamu mengangkat panggilanku. Haha. Kalaupun kamu ingat, kita pernah saling mengungkapkan perasaan kita melewati surat. Ironisnya, perasaan ini tak mampu fasih untuk saling diucapkan ketika kita bertatap muka. Hingga sampai pada satu titik, kita memutuskan untuk berpacaran. Sesuatu yang pertama kali buatku namun kesekian kalinya buatmu.

  Ini bagian tersulit nya menurutku: mengingat bagaimana kita berakhir. Apa yang kuingat adalah aku cuma tahu kita sudah berjauhan saja. Tapi kita masih sering kontak melalui media sosial. Sebuah kedewasaan dalam post break up yang aku jaga sampai sekarang. Kami masih saling keep in touch bahkan sampai sekarang. Rencananya selesai Corona ini, dia akan liburan kesini bersama pacarnya. 

   Pada akhirnya dialah yang menjadi patah hati pertamaku. Kesan yang ditinggalkannya saat kami berpisah mungkin tidak sedramatis perpisahan yang kualami setelah - setelahnya. Aku ingat betul bagaimana ketika dia mengucap perpisahan lewat pesan yang kuterima hari itu, setelahnya yang aku bisa lakukan hanya  terus bermain PS2 milikku dan memainkannya seharian mengobati getir yang masih mengikat di benakku. Video game selalu bisa membuatku melupakan segalanya. Seakan menjadi obat paling mujarab atas semua hal berat yang aku alami.

   Dan sekarang, saat umurku akan menjadi 24 dalam hitungan hari, aku masih berharap bermain video game akan menjadi obat yang sama untuk masalah yang sama.

   

   


    

My Reflection Of Youth


  Suatu hari jika kita berpisah, jangan pernah bilang "aku gak bisa hidup tanpa kamu". Hidup kita bakal terus berjalan, cuma hubungan kita yang berhenti. Aku cukup paham dari awal. Bahtera yang kami buat mungkin akan karam sebelum berlabuh

  Seperti orang-orang kebanyakan, aku lebih menyukai subuh daripada senja, lebih memilih pop ice permen karet dibanding secangkir kopi, dan tak pernah mengerti mengapa hujan spesial selain dalil yang mengatakan mereka adalah salah satu pembawa berkah

    Setelah apa yang telah terjadi, kita semua pasti melewati masa-masa yang berat bagi anak seusia kita - tidak punya pasangan prom nite, kehilangan cinta pertamamu, menemui cinta yang tak terbalas, bahkan tidak sengaja membuat beberapa teman kita menjauh diri kita sendiri pada suatu waktu - dan kita pasti belajar darinya. Semakin kita beranjak dewasa, semakin kita cenderung merasa aneh terhadap apa yang anak-anak jaman sekarang alami dan dengan mudahnya berkata itu belum seberapa. Tapi bagi mereka, itu adalah bagian yang mengubah hidup mereka, bagian dimana dulu kita pernah berada, bagian dimana mereka sekarang.