Selama pandemi, tanggal di kalender seakan tak ada gunanya menurutku. Setiap hari terasa sama. Tak banyak yang bisa kulakukan di rumah selain menonton televisi dan laptop, melihat video lucu di media sosial, bermain Playstation Portable, makan minum, menjaga keponakanku, dan beberapa pekerjaan rumah yang jarang kulakukan. Interview dan tes kerja yang diundur entah sampai kapan membuatku secara teknis menjadi pengangguran intelektual di rumah. Aku sendiri tak yakin aku orang yang intelek. Lagipula aku harus memandang sisi baik dari semua ini: aku bisa menghemat pengeluaranku. Tabunganku dari bekerja serabutan selama kuliah masih cukup untuk beberapa tahun kedepan.
Aku mendapati beberapa hari kemarin aku berdiri di depan halaman rumahku. Aku terus memandangi rumahku, tempat yang selama 22 tahun menjadi naunganku. Dulu rasanya amat besar. Aku bahkan bisa berlatih sepeda roda dua di halaman itu. Kini rasanya amat sempit. Di satu sisi rumah ada sebuah berugak. Dulu aku sering membawa temanku untuk sekedar bermain monopoli sehabis kami belajar kelompok disana. Sekarang berugak itu reot dan miring. Dudukannya pun kini dipenuhi debu. Langit-langit rumah satu-persatu terlepas. Beberapa area di rumah kadang bocor jika hujan deras. Walaupun bertingkat, kadang aku berfikir ini lebih mirip rumah gembel. Tak peduli seberapa kalipun diperbaiki, sudah memang saatnya rumah itu mengalaminya.
Sebagai antisipasi, kakak-kakakku sudah mengikuti program KPR. Membeli rumah bagi diri mereka masing-masing dan keluarga mereka kelak. Aku? Selain kendala finansial yang sudah pasti, ada hal yang menurutku cukup sentimentil membuatku bertahan di rumah ini. Sempat beberapa kali ibuku terpikir untuk pindah. Aku saja yang tak mau. Selain itu sebagai anak terakhir, rumah ini menurutku warisan yang paling tak ternilai. Rumah inilah kenangan terakhir yang mengikatku dengan almarhum ayahku. Tak peduli sebagus apapun nanti rumah yang mungkin akan kubangun dengan uangku sendiri, rumah ini akan selalu menjadi tempatku kembali akhirnya. Seberapa cacatpun nanti tembok, langit-langit, pilar, halaman, ataupun lantainya, rumah ini akan tetap menjadi rumah sempurna. Teruntuk ayah, terima kasih atas warisan terbaik yang kau tinggalkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar