Minggu, 05 Maret 2023

Menghadapi Kehilangan

Aku jatuh cinta lagi. 

Entah ini kali keberapa.

Sekali lagi, logikaku melumpuh.


Percakapan tentang diary memulai semua ini.

Kau bercerita ingin menulis apa yang telah kau capai hari ini.

Bertemu dengan bualanku yang seolah ingin terus memberi impresi.


Andai saja henti sampai disitu, semua mungkin akan seperti biasa.

Tapi seperti sebelum-sebelumnya, hati mulai terlibat dengan seenaknya.

Perasaan terbawa jauh seiring pesan yang saling berbalas cepat


Hari terus berlanjut tanpa memerdulikan kita.

Anehnya, bahkan di hari terbrengsek sekalipun. 

Hadirmu seolah memberikan arti.


Hidupku berubah-semakin mempunyai tuju.

Terlebih mengetahui apa penyebab sendu yang menghias diwajahmu.

Ingin sekali rasanya menjadi pengobat untuk semua itu.


Makin lama, kau seolah menjadi candu.

Tak ada hari yang kuanggap baik sebelum mengetahui kabarmu.

Sepedih ini ternyata menggantungkan bahagia terhadap sesuatu.


Hingga pada satu titik, semua tertumpah.

"Secepat Ini? Apa Kamu Sakit?" katamu.

Seketika seluruh duniaku runtuh menuju ke arahku.


Dan seperti kebanyakan orang yang gagal

Aku mengutuk nasib, mempertanyakan takdir, menyesali hari dimana kumengenalmu.

Harus berapa kali namamu tersebut dalam doa agar kamu yang menjadi akhirnya?


Butuh waktu untuk semuanya agar memulih.

Membiasakan diri untuk memijak bumi yang sama, denganmu di dalamnya.

Hanya saja, kali ini, kita telah memiliki tuju yang berbeda. 


Pada akhirnya, setiap pertemuan memiliki banyak arti,... ternyata. 

Bagiku, pertemuan selalu memiliki makna yang berujung kepada sesuatu. 

Namun bagimu, itu hanya sekedar Kamis dengan langit penuh kelabu. 


Ternyata, tafsirku banyak menimbulkan keliru.

Diantara semua sabda yang tertulis di alam.

Pertemuan ini yang membuatku paling merasa hanyut dalam kelam 


Apapun bentuknya, "perpisahan" adalah sesuatu yang niscaya.

Dan "kehilangan" adalah satu-satunya yang bergandeng tangan dengannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar