Melahirkan "Death And Devil" adalah sebuah perjalanan emosional.
Bisa dibilang merilis lagu ini adalah "hutang" yang akhirnya saya lunaskan ke versi lebih muda dari diri saya dan teman-teman saya di Suicidal Sullivan waktu itu. Keterbatasan pengetahuan, uang, dan teknologi waktu itu seolah menjadi batu sandungan saya, Yudha (vokalis) , Bagas (drummer) , Rendi Gokong (gitaris), dan Ari (gitaris) untuk mengabadikan sebuah karya yang kami buat dengan semangat khas anak muda ke dalam rangkaian data digital dalam bentuk MP3 yang untuk membuatnya sudah pasti tidak murah, waktu itu.
Semangat itu terus kami bawa hingga akhirnya sampailah kami di kelulusan SMA. Latihan rutin di malam minggu menurun drastis secara kuantitas. Kehidupan kami berjalan ke arah yang saling tak bersilang. Lagu yang kami banggakan itu hanya terekam di otak kami tanpa orang-orang tahu. Di sela kehidupan kami yang berjalan terus, sesekali Bagas mengajak kami berkumpul untuk jamming ke studio saat ia mampir ke Lombok. Masih ada sisa-sisa semangat kemudaan itu di diri kami. Walau tak bisa dipungkiri, energi kumpulan pria di awal 30 mereka tidak mungkin bisa mengimbangi energi usia belasan kami yang dulu.
Saya pun teringat saat 2012, kami pernah memiliki raw demo lagu "Death And Devil" yang saya rekam dengan Nokia E71 milik saya. Hasilnya? Jujur sangat terkesan lo-fi namun saya rasa itu cukup untuk menjadi bahan eksperimen baru saya. Untuk pertama kalinya, lagu yang tak pernah orang dengar yang kami buat nyaris empat belas tahun yang lalu itu seakan memiliki kesempatan untuk terlahir.
Sebagai step pertama, saya memasukkan demo lagu itu ke Suno dan Suno men-generated lagu itu dalam beberapa versi, tanpa vokal. Sekitar ada tiga versi yang dibuat kemudian semuanya saya pindahkan ke Bandlab. Step kedua, saya meminta Yudha merekam vokalnya. Sebenarnya ada sedikit ketidakyakinan dalam diri saya apa vokal Yudha masih fit untuk dipakai menyanyi mengingat sebelum datangnya Riyan, posisi drum saat kami jamming di studio adalah miliknya. Namun, saat iya mengirimkan beberapa take vokal yang ia rekam, perkiraan saya salah. He's still got it a bit even though it's not perfect. Step ketiga, saya menggunakan menu "split" di Bandlab untuk raw demo 2012 tersebut dan memasukkan beberapa unsur gitar dan bass ke dalam fondasi awal yang saya buat lewat Suno.
Kemudian, setelah semua komponen terkumpul mulailah jemari saya aktif di keyboard dan mouse. Semua unsur tersebut saya bedah lagi, terutama vokal Yudha yang saya harus pilih part mana saja yang menguatkan lagu dari beberapa take yang dia kirim kemudian me-layer vokalnya menjadi tiga dengan efek vokal yang berbeda beda. Begitupun dengan musik dasarnya, saya memilah beberapa part lalu kemudian menggabungkan part terbaik dari kesemuanya. Lalu menyelipkan bass dan gitar dari raw demo tersebut di layer terakhir dengan suara yang tentu saja saya bikin agar tidak terlalu terdengar di end product. Saya juga memasukkan beberapa sound efek tangisan, efek tertawa yang maniakal, dan efek tawa setan agar fit dengan tema lagu tersebut.
Praktis, secara teknis, hanya vokal Yudha yang menjadi komponen asli dari rekaman tersebut. Namun, bukan berarti komponen lain tidak organik. Musik yang di-generated oleh Suno itu merupakan musik yang kami buat sendiri basic-nya. Jadi setidaknya, menurut apa yang saya yakini, soul dari apa yang kami buat belasan tahun lalu tersebut bertransformasi menjadi sound yang lebih "enak didengar" dibanding raw demo yang kami buat awalnya.
Hasilnya? Meskipun tak sempurna dan ada kekurangan tentunya disana-sini, tapi menyaksikan "Death And Devil" akhirnya tercipta dengan sound yang jauh lebih proper menjadi sebuah perjalanan emosional yang terbayar lunas. Terutama untuk saya, Yudha, dan Bagas tentunya sebagai tiga orang yang bertahan dari formasi orisinal. Sebagai orang yang menciptakan dan mengerjakan proses "mixing dan mastering" lagunya, saya sendiri cukup berkaca-kaca mendengar hasilnya. Ada kelegaan dan rasa puas dalam mengerjakan setiap detailnya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar